 |
Cover Novel "Carikan Aku Istri" |
Judul
: Carikan Aku Istri
Penulis
: Arul Khan
Penerbit
: Fatahillah Bina Alfikri (FBA) Press, Tangerang
Tebal
: 190 halaman
Tahun Terbit : 2004
ISBN
: 979-3205-26-1
*
Siapa bilang kaum lelaki tidak resah
memikirkan siapa calon pendamping hidupnya?
Siapa bilang menentukan satu keputusan untuk memilih
adalah hal yang teramat mudah bagi lelaki?
Alhamdulillah, pada tanggal 24 Januari 2011.. buku antologi yang ada
cerpenku di dalamnya sampai juga di tangan.. terima kasih kepada
Penerbit Nulis Buku! ^^v
 |
Aisya Avicenna dan "Be Strong, Indonesia #14"
Kumpulan Cerpen “BE STRONG INDONESIA” ini ditulis bersama rekan-rekan yang tergabung dalam #writersforindonesia
Berisi :
1. Tanggal 11 Bulan Juni, penulis Winda Joeanita
2. Matahari Setelah Hujan, penulis: Ninit Yunita
3. Membuka Luka Lama’, penulis: Arif Zunaidi
4. Pelangi, Penulis: Hindraswari Enggar
5. Senja Dalam Senyuman, Penulis: Agustina Wulandari
6. Cinta Adinda, penulis: Aisya Avicenna
7. ‘Hidup dan Daging Rendang’, penulis: Irhayati Harun
8. Jalan simpang dua, penulis: Yudiono
9. Nusantara, penulis: Andrika Permatasari
10. Semesta Maya, penulis: Feby Indirani
11. Senyum Kecil dari Sang Cahaya, penulis: Theresa Levana
12. Rumah Ini, penulis: echaimutenan
13. Ada Malaikat Pencabut Nyawa, penulis: Ade HK
14. Saat Mencintai Dunia Maya, penulis: Syarifah Bachrum
15. Ketika Jauh, penulis: Triana Dewi
16. Surat Untuk Surya, penulis: Papyruz
Hasil penjualan dari kumpulan cerpen ini akan didonasikan seluruhnya
(100%) untuk korban bencana alam di Indonesia, yang akan disalurkan
melalui lembaga terpercaya.
Buat teman-teman yang berminat membeli kumpulan cerpen ini sekaligus
memberikan donasi bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan, silakan
SMS ke : 08999344753. Harga : Rp 45.000,-
Format SMS: Nama_Alamat lengkap_Jumlah Pesanan kirim ke 08999344753
Bisa pesan dulu, soal pembayaran… nanti bisa menyusul… (saya konfirmasi via SMS)
Beli buku sekaligus beramal? Yuk, mari…
Be Strong Indonesia!!!
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan Januari 2011 di blog sebelumnya. |

Judul Asli : Masyahir an-Nisa’ al-Muslimat
Penyusun : Ali bin Nayif Asy-Syuhud
Penerbit naskah berbahasa Arab : www.Saaid.Net disetujui oleh Wizarah al-I’lam (Departemen Penerangan)
Penerjemah : Irwan Raihan
Judul Terjemahan : Kisah Shahabiyah; Mawar-Mawar Padang Pasir
Penerbit : Afra Publishing
Terbit : April 2009
Tebal : 280 halaman
Harga : Rp 55.000,-
***
Buku ini menceritakan kisah muslimah terkemuka sepanjang sejarah Islam.
Di dalamnya terkandung kisah menakjubkan dari kehidupan mereka yang
patut dijadikan teladan oleh setiap wanita beriman. Buku ini mengurai 62
kisah shahabiyah yang luar biasa, di antaranya:
1.Sang Ibunda (Hawa’)
2.Ibu Ananda yang Hendak Disembelih (Hajar)
3.Wanita yang Berhijrah (Sarah)
4.Perempuan yang Bertawakal (Ibu Musa as.)
5.Istri yang Ahli Firasat dan Pemalu (Istri Musa as.)
6.Permaisuri yang Beriman (Asiyah binti Muzahim)
7.Masyithah
8.Istri yang Memiliki Komitmen (Istri Ayyub as.)
9.Sang Ratu (bilqis)
10.Ibu yang Masih Gadis (Maryam)
11.Penghulu Wanita Qquraisy (Khadijah binti Khuwailid)
12.Wanita yang Behijrah, Janda dari Pria yang Berhijrah (Saudah binti Zam’ah)
13.Ummul Mukminin yang Tercinta (Aisyah binti Abu Bakar)
14.Pemegang Rahasia Rasulullah saw. (Hafshah binti Umar)
15.Ibunda Orang Miskin (Zainab binti Khuzaimah)
16.Teman yang Cerdas dan Konsultan Handal (Ummu Salamah)
17.Wanita Mulia (Zainab binti Jahsy)
18.Sang Pembebas Seratus Budak (Juwairiyah binti Harits)
19.Cucu Para Nabi (Shafiyyah binti Huyayy)
20.Ummul Mukminin yang Bertakwa (Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan)
21.Wanita yang Bercita-Cita (Maimunah binti Harits)
22.Ummu Ibrahim dari Mesir (Mariyah Al-Qibthiyyah)
23.Sang Pemilik Kalung (Zainab binti Rasulullah saw.)
24.Wanita yang Berhijrah Dua Kali (Ruqayyah binti Rasulullah saw.)
25.Yang Kedua dari Dua Cahaya (Ummu Kultsum binti Rasulullah saw.)
26.Bunga yang Harum (Fathimah az-Zahra’ binti Rasulullah saw.)
27.Ibu Susuan (Halimah as-Sa’diyyah)
28.Bibi Rasulullah (Shafiyyah binti Abdul Muththalib)
29.Sang Penolong (Arwa binti Abdul Muththalib)
30.Sang Pelindung (Ummu Hani’)
31.Ibunda Keimanan (Fathimah binti Asad)
32.Ibunda al-Habib saw. (Ummu Aiman)
33.Syahidah Pertama dalam Islam (Sumayyah binti Khayyath)
34.Wanita dari Kalangan Bidadari Bermata Jelita (Ummu Ruman, Istri Abu Bakar)
35.Sang Pemilik Dua Sabuk (Asma’ binti Abu Bakar)
36.Adinda Al-Faruq (Fathimah binti Khathab)
37.Tentara Wanita, Ibunda Seluruh Tentara Islam (Nusaibah binti Ka’ab)
38.Wanita yang Sabar, Maharnya adalah Islam (Ummu Sulaim binti Milhan)
39.Penjelajah Samudera (Ummu Haram binti Milhan)
40.Orator Wanita (Asma’ binti Yazid)
41.Sang Pemilik Kemah (Ummu Ma’bad)
42.Wanita yang Benar dan Dibenarkan (Ummu Dzarr)
43.Gadis yang Berhijrah (Ummu Kultsum binti Uqbah)
44.Pemilik Warisan (Ummu Kujjah)
45.Wanita yang Berkurban (Laila binti Abu Hatsmah)
46.Syahidah yang Masih Hidup (Ummu Waraqah)
47.Sang Pemilik Kebun (Atikah binti Zaid)
48.Wanita Dermawan Putri Sang Dermawan (Safanah binti Hatim Ath-Tha’i)
49.Wanita Penyair Ibunda Syuhada (Al-Khansa’)
50.Perempuan di Bawah Naungan (Hindun binti Utbah)
51.Sang Pembunuh Tujuh Orang (Ummu Hakim)
52.Perempuan Penghuni Surga (Ummu Zufar)
53.Saudara Perempuan Nabi saw. (Syaima’)
54.Wanita yang Menjaga Kehormatan Dirinya (Musaikah at-Taibah)
55.Dokter dan Terapis Wanita (asy-Syifa’ binti Abdullah)
56.Pemberi Nasihat (Hujaimah binti Huyyay, Ummu Darda’)
57.Wanita yang Teguh Hati (Nailah binti Farafishah)
58.Pemilik kafan (Hafshah binti Sirin)
59.Wanita yang Baik (Ummu Amarah binti Sufyan)
60.Wanita Ahli Ibadah (Rabi’ah al-Adawiyyah)
61.Nafisah si Pemilik Ilmu (Nafisah binti Hasan)
62.Ahli Al-Quran (Zubaidah, Istri ar-Rasyid)
Penjabaran kisah dalam buku ini sangat runtut meski ada beberapa kata
yang kurang bisa dipahami, karena memang buku ini adalah buku
terjemahan. Terlepas dari kekurangannya tersebut, buku ini layak untuk
dibaca para muslimah pada khususnya sehingga bisa menjadi inspirasi
dalam kehidupannya mengingat pada era globalisasi seperti sekarang ini,
banyak dari kaum muslimah yang cenderung memfigurkan tokoh-tokoh yang
malah jauh dari nilai Islam. Sehingga sangat disayangkan jika para
muslimah malah melupakan sejarah dan kurang meneladani wanita-wanita
luar biasa (baca : shahabiyah) yang beberapa kisahnya terangkum dalam
buku ini.
Selamat membaca!
REDZone, 18 Januari 2011_04:26
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan Januari 2011 di blog sebelumnya.

Pukul 02.00 dini hari aku kembali terjaga saat “For The Rest of My Life”-nya Maher Zain terlantun dari ‘mesin ketik mini’ kesayanganku. Ah, tertanya netbook itu lupa dimatikan oleh seseorang. Seseorang yang waktu aku terbangun tadi, dia masih terlelap. Pulas. “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”-nya Tere Liye masih terpegang di kedua tanganku. Tapi kini posisinya sudah telungkup. Ternyata aku ketiduran saat tengah membacanya semalam. Membaca sambil tidur, bukan kebiasaanku memang, tapi jangan ditiru!
Teringat petualangan kemarin. Pukul 09.00 aku menjemput seseorang di stasiun Jatinegara. Setelah itu, dia kuajak ke kost kemudian kami berdua bertandang ke Masjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki. Pertemuan dengan rekan-rekan FLP Jakarta memang selalu berbuah kesan. Termasuk pertemuannya kali ini, untuk pertama kalinya pula! Setelah dari situ, kami menyempatkan diri untuk makan siang. Baru setelah cukup energi, kami melanjutkan perjalanan ke Gramedia Matraman. Inilah program bulananku : BBG (Baca Buku Gratis). Dia kubiarkan berkeliling mencari buku pilihannya. Oh ya, "dia" adalah saudari kembarku. Kini, kami tengah dipertemukan-Nya dalam sebuah perjalanan hidup yang kelak entah akan membawa kami ke kisah yang seperti apa. Hanya Allah yang Maha Tahu kelanjutan dari kisah yang tengah kami lakoni ini.
Aku bergerilya dari satu rak ke rak lainnya untuk mencari sebuah buku yang tepat untuk kubaca siang itu. Penasaran dengan sinopsis yang tertulis di halaman permulaannya, terambillah sebuah novel baru karya Tere Liye. Judulnya "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”. Berikut rentetan tulisan yang kumaksud di atas :
Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah dan janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami, Memberikan kasih sayang, perhatian dan teladan tanpa mengharap budi sekalipun. Dan lihatlah aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.
Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah.. Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun dan yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggut dari tangkai pohonnya.
***
Aku penasaran. Tertarik, lantas mengambil novel yang sudah terbebas dari plastik pembungkusnya. Aku menuju ke tempat baca, ternyata kursi baca sudah ditempati semua. Tersisalah sebuah dinding kaca di dekat kursi baca itu. Punggung ini kusandarkan pada dinding, kemudian bab pertama novel bersampul hijau itu aku buka.
Saat sedang khusyuk membaca, ada pengumuman dari operator,
"Kepada segenap pengunjung yang berada di areal buku, diharapkan untuk tidak duduk di lantai"
Beberapa pengunjung yang duduk di lantai langsung berdiri. Aku yang tengah bersandar di dinding kaca (jadi inget lagu masa kecil : thicko.. thicko di dinding... hehehe, salah ding!) dan masih asyik dengan novel itu mendadak terusik dengan gerak-gerik seseorang yang berada 1 meter sebelah kiriku. Awalnya dia duduk di lantai, setelah ada peringatan itu, dia memang beralih posisi. Dari duduk menjadi JONGKOK! Dia jongkok dan kembali fokus membaca. Cuek! Ahihihi... jadi tertawa dalam hati.
Menjelang pukul tiga sore, novel setebal 256 halaman itu belum jua kubaca sampai setengahnya! Lha baca novelnya sambil YM-an sih! Kebetulan waktu asyik baca, ada YM yang masuk, dari seseorang yang baru saja membuka blogku. Seorang akhwat. Namanya Kartika. Mirip namaku. Biasa dipanggil Twika. Serasa buku-buku yang terbujur kaku di rak-rak itu menjadi saksi terkoneksinya kami. Ukhti Twika ternyata lolos ujian tertulis CPNS Kementerian Perdagangan RI. Beliau diskusi denganku terkait pengalamanku saat psikotes dan wawancara. Jadinya ya baca buku sambil YM-an deh. Alhamdulillah, lewat blog, aku jadi punya banyak saudara baru.
Berhubung ada urusan yang harus kami selesaikan, aku pun mengembalikan novel yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama itu ke singgasananya semula. "Suatu saat aku ke Gramedia Matraman lagi saja, merampungkan novel ini. Toh, hampir tiap bulan aku ke sini", batinku. Akhirnya, aku membeli "Bidadari-Bidadari Surga"-nya Tere Liye. Saudari kembarku membeli sebuah buku juga. Setelah kami turun ke lantai 1, sempat aku membeli beberapa peralatan kantor yang aku butuhkan. Saat itulah ada yang berkecamuk dalam hatiku, PENASARAN! Ya, aku masih penasaran dengan kelanjutan kisah Tania dalam novel yang tadi belum selesai kubaca. Setelah bayar di kasir, aku bergegas ke lantai 3, tempat novel itu. Akhirnya, "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" resmi menjadi penghuni baru di Al-Firdaus, perpustakaan pribadiku. Menjadi rencanaku, bahwa aku ingin mengoleksi semua novelnya Tere Liye. Aku masih penasaran dengan penulisnya juga. Sampai detik ini belum ada kesempatan untuk bertemu!
Pulang dari Gramedia Matraman, saat sang mentari hampir sampai di tempat peraduannya, kami masih mencari rental komputer yang bisa mencetak warna. Hasilnya NIHIL!
Selang beberapa saat kemudian...
"Ada mbak..." sebuah SMS balasan dari seorang adik mahasiswi STIS saat kutanya apakah di kostnya ada yang punya printer warna dan malam ini bisa digunakan. Sehabis Maghrib, aku dan saudari kembarku langsung meluncur ke kostnya. Subhanallah, sambutan yang luar biasa dari adik-adik STIS karena mereka 'terkejut' dengan kehadiran duplikatku. Hmm... heboh! ^^v
Misi supertwin sukses!
Menjelang tidur, ada rasa penasaran yang masih belum terjawab. Akhirnya aku membaca novel Tere Liye yang sempat 'terpending' sore tadi. Ternyata, malah tertidur saat tengah membacanya. Alhamdulillah, novel itu selesai setelah sahur keesokan harinya!
***
Novel itu berkisah tentang sepasang kakak beradik yang sehari-harinya bekerja sebagai pengamen jalanan, Tania dan Dede. Suatu hari, saat sedang mengamen di sebuah bus, mereka bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi malaikat dalam kehidupan mereka. Dia menolong Tania yang kakinya tertusuk paku payung. Seterusnya, dialah penopang kehidupan Tania, Dede dan ibunya. Pertemuan dengan seseorang itu juga mengajarkan Tania sebuah perasaan baru. Tania yang saat itu berusia 11 tahun tanpa sadar sudah berkenalan dengan rasa cemburu saat seseorang itu mengenalkannya dengan Ratna.
Hari-hari setelah kehadiran seseorang itu merupakan sebuah awal baru dalam kehidupan Tania. Dia dan adiknya bisa bersekolah kembali, mereka bisa tinggal di tempat tinggal yang lebih layak, dan ibunya bisa memulai usaha yang dulu diidam-idamkannya. Sayangnya kebahagiaan itu terganti dengan duka. Dua tahun berselang, ibu Tania meninggal dunia. Ada sebuah pesan ibu Tania yang sekaligus menjadi janji yang terpatri dalam diri Tania. Janji apakah itu???
Setelah 'resmi' menyandang status sebagai yatim piatu, Tania dan Dede kembali diselamatkan olehseseorang yang menjelma menjadi malaikat bagi mereka.
Seseorang itu ternyata penulis, penyuka warna biru, dan pengunjung setia sebuah toko buku. Sosok yang misterius. Aku sangat suka dengan karakter misterius seperti seseorang dalam novel ini. Keren!!
Waktu terus berjalan. Tania yang cerdas berhasil mendapat beasiswa untuk bersekolah di Singapura. Kok bisa? Lantas, bagaimana dengan nasib Dede dan seseorang itu? Apa ia jadi menikahi Ratna? Bagaimana akhir kisah cinta Tania? Apa ia berani berkata jujur bahwa ia mencintai seseorangbak malaikat itu? Ada rahasia terpendam yang akhirnya terungkap. Rahasia apakah itu???
Untuk urusan bercerita, Tere Liye memang tak perlu diragukan lagi. Dilihat dari segi sudut pandang, penokohan, alur, setting, ahhh... pokoknya jadi tak mau berhenti membaca kelanjutan dari setiap bab. Rasa penasaran mendera untuk segera meloncat ke bab berikutnya. Secara keseluruhan, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Sayang, rasa penasaran itu masih saja menggelayut sampai akhir kata dalam novel ini. Tere Liye masih menyisakan pertanyaan di akhir novel seharga Rp 32.000,00 tersebut.
Apa ya kalimat yang dibisikkan seseorang itudi telinga Tania di akhir cerita itu?
***
Beberapa baris tulisan yang mengesankan bagi saya.
“Tania, kehidupan harus berlanjut. Ketika kau kehilangan semangat, ingatlah kata-kataku dulu. Kehidupan ini seperti daun yang jatuh... Biarkanlah angin yang menerbangkannya...” (70)
“Dalam urusan perasaan, di mana-mana orang jauh lebih pandai ‘menulis’ dan ‘bercerita’ dibandingkan saat ‘praktik’ di lapangan. (174)
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Bahwa hidup harus menerima... penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti... pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami... pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah ke mana. Dan kami akan mengerti, kami akan memahami... dan kami akan menerima” (197)
“Lebih baik menunggu. Kau tidak ingin terjebak oleh kebaikan itu sendiri. Ada banyak kebaikan yang justru berbalik menikam, menyakitkan pemberinya.” (213)
“Pria selalu punya ruang tersembunyi di hatinya. Tak ada yang tahu, bahkan percayakah kau, ruang sekecil itu jauh lebih absurd daripada seorang wanita terabsurd sekalipun.” (213)
“Dia memandang lamat-lamat sepotong kehidupan itu. Menjahitnya. Membuat pakaian masa depan yang rapuh dari semua masa lalu yang getas" (221).
“Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta" (227)
***
Novel ini memang betul-betul akan mengaduk perasaan. Terharu dan bisa memecah benteng pertahanan air mata kita! Sama sekali tidak ada rasa kecewa saat berhasil menyelesaikan novel ini dalam waktu yang tak lama. Novel yang menyuguhkan sebuah kisah cinta yang sederhana, dibalut dengan gaya tulisan yang sangat indah, serta jalan cerita yang tak mudah ditebak. Tentang cinta, kepedulian, optimisme, dan kasih sayang pada sesama.
Kalau ingin menyelami kisah "CINTA DALAM DIAM", belilah novel ini! Kemudian, bacalah! Kalau tak mau membeli, pinjam ke aku juga boleh! ^^v
Selamat membaca dan terinspirasi karena novel ini!
Jakarta, 251010_15:57
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan Oktober 2010 di blog sebelumnya

Hmm,
judul di atas bermakna ganda ya? (Karena yang menulis ini kebetulan
bernama Etika, ^^v). Tapi yang dimaksud bukan Etika yang menulis ini.
Etika = Suluk = Akhlak… Yadahlah, mari disimak!
Selasa, 22 September 2010
Pagi
ini, sebelum berangkat ke kantor, aku menyempatkan diri untuk melihat
berita pagi ini. Aku terhenyak saat melihatsebuah berita! Dalam berita
itu diceritakan bahwa ada seorang anak yang tinggal di daerah Sumatera
Selatan, ia bernama Reno, baru berumur 2 tahun 3 bulan. Sekilas dari
penampilannya, ia seperti anak kebanyakan. Dalam berita tersebut, wajah
Reno ditutupi (disamarkan). Mengapa???
Saya
beri tahu, tapi jangan kaget! Ternyata Reno kecil adalah seorang perokok
berat! Dalam layar TV sekilas juga terlihat Reno sedang bermain sambil
merokok. Astaghfirullah... Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 32 batang!
Bayangkan kawan!!!
Bagaimana sih orang tua Reno mendidik dan
mengasuhnya? Kok bisa sampai separah itu? Pasti ada sesuatu yang tidak
beres! Itulah pertanyaan yang terbersit dalam diri ini saat melihat
berita itu? Dan sepertinya, memang ada yang tidak beres! Ibu dan ayahnya
terkesan cuek! Bahkan hanya menjawab, sudah dibawa ke puskesmas tapi
belum ada perubahan. Uhf... Astaghfirullah!!!
Berita itu pun berlalu.
Diri ini juga harus segera beranjak pergi ke kantor. Seperti biasa,
harus ada buku yang menjadi teman perjalanan. Akhirnya memutuskan untuk
membawa buku “Etika Menjadi Ibu”
yang sengaja dipilih di antara tumpukan buku yang belum sempat disampul
dan diinventaris. Buku saku ini merupakan buku terjemahan dengan judul
aslinya adalah “Sulukul Ukhtii Muslimah Kaummin”.
Buku setebal 43 halaman ini ditulis olehShafa’ Jalal dan diterjemahkan
oleh Nurul Mukhlisin Asyrafuddin, Lc, M.Ag. Buku bersampul pink dengan
gambar bayangan seorang ibu yang menggandeng anak kecilnya ini
diterbitkan oleh Laa Raiba Bima Amanta (elBa), Surabaya.
Buku ini
menerangkan bahwa tanggung jawab seorang muslimah sebagai seorang ibu
terhadap anak dimulai sejak belum menikah hingga anak menjadi dewasa.
Tanggung jawab terhadap anak dimulai dengan memilihkan ayah yang shalih.
Setelah seorang muslimah memilih suami yang sholeh, maka akan
dihadapkan pada beberapa fase selanjutnya.
1. Fase kehamilan, pada
fase ini mulailah ada tambahan tanggung jawab seorang muslimah terutama
untuk menjaga kesehatan janin dalam rahimnya.
2. Fase melahirkan,
pada fase ini kekuatan seorang muslimah akan sangat diuji. Tak hanya
secara fisik, tapi juga mental. Berjuang melawan maut demi kelahiran
sang buah hati. Berusahalah untuk meminta bantuan dokter atau bidan
beranak yang bukan laki-laki. Cari yang wanita saja!
3. Fase setelah
melahirkan, pada fase ini Allah dan Rasul-Nya telah memberikan beberapa
petunjuk sebagai kewajiban awal bagi orang tua, di antaranya :
a. Adzan dan iqamah di telinga sang bayi
b. Tahnik (mengolesi langit mulut bayi) dengan kurma
c.
Memberikan nama yang baik. Bila terjadi perbedaan antara ayah dan ibu
dalam masalah nama, maka memilih nama termasuk tugas suami (ayah sang
bayi)
d. Mencukur rambut kepalanya dan bersedekah dengan perak seukuran berat rambutnya
e. Khitan dan melubangi daun telinga (bagi wanita)
f. Mengaqiqahkannya
g. Menyusuinya dalam waktu dua tahun
4.
Fase anak pertengahan, maksudnya saat buah hati kita memasuki masa
kanak-kanak. Pada masa ini orang tua sangat berperan mendampingi anak
dengan serius memberikan pendidikan bernilai syari’at kepada mereka.
Caranya dengan mengajarkan kalimat “La Ilaaha Ilallah”, memberitahukan
kepadanya tentang perkara halal dan haram, menyuruh anak untuk
beribadah, mendidik mereka dengan adab Islami, mengajarkan mereka
bermuamalah, membiasakan infaq, mengajari dzikir
5. Fase remaja, pada
fase ini peran orang tua juga sangatlah penting karena pada fase ini
kondisi fisik dan emosional anak memang tengah labil. Maka dari itu,
jadilah teman bagi mereka. Jangan suka mendikte, tapi dengarkanlah
mereka.
6. Fase dewasa, pada fase ini peran seorang ibu adalah turut
memilihkan pendamping yang baik agamanya buat anak. Pendampingg yang
sholeh/sholehah, multazimah (taat) dan beriman untuk menyempurnakan
kehidupannya.
Nasihat-nasihat untuk muslimah :
1. Hiasi diri dengan kejujuran dalam perkataan, karena perkataan kita adalah teladan yang akan diikuti oleh anak-anak kita
2. Jadilah muslimah yang amanah, ikhlas, dan taat kepada Allah selalu
3. Jagalah jangan sampai bertengkar dengan suami di hadapan anak-anak
4. Tidak menghukum anak dengan pukulan yang melukai
5. Tidak memberikan hinaan dan makian di hadapan orang lain
Hmm, mari menjadi calon orang tua yang terbaik buat anak-anak kita!
Jakarta, 22 September 2010
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan September 2010 di blog sebelumnya

H-1
menjelang keberangkatan ke Jakarta, aku menyempatkan untuk
menyelesaikan membaca novel karya Mbak Afifah Afra yang berjudul
Rabithah Cinta. Berikut ini review-nya.
So inspiring!!!
***
Judul : Rabithah Cinta
Penulis: Afifah Afra
Penerbit : Mizan
Tanggal terbit : November - 2008
Jumlah Halaman : 336
Bagi
penggemar novel dengan alur mendebarkan dan sesekali menyesakkan dada
dengan haru maka Rabithah Cinta adalah jawabnya. Syakilla, seorang
akhwat yang mendambakan suami seperti seorang petani [kenapa? baca
aja!]. Akhirnya ia menikah dengan Riyan, seorang dokter [kenapa bukan
petani? Makanya, baca!!]. Riyan punya cita-cita mulia, menanam pahala di
bumi Papua. Syakilla yang lagi bersinar di karirnya enggan menuruti
permintaan suaminya, tapi setelah sekian lama akhirnya mau juga
berangkat ke Papua.
Bagaimana rasanya hidup di
daerah asing dan terpencil yang segala sesuatunya serba terbatas?
Itulah yang dialami Syakilla, muslimah yang harus memendam semua
impiannya saat harus mengikuti suami tercinta dinas ke Papua. Syakilla
harus rela mengabdikan hidup dan cintanya di pedalaman Papua. Hari-hari
awal dilalui tetap dengan bahagia hingga suatu ketika ada badai yang
datang melanda biduk rumah tangganya.
Napas cinta Syakilla serasa
tercekat ketika Riyan yang sedang bertugas tiba-tiba disandera
gerombolan pemberontak RI yakni Organisasi Papua Merdeka (OPM). Dalam
penyanderaannya, Riyan sempat bertemu dengan seorang wanita yang
ternyata menaruh hati padanya, bahkan membuatnya kagum karena berani
menyatakan keislamannya di hadapan Riyan. Cintanya pun diuji.
Syakilla
tak menyerah. Ia menanti dalam doa dan kesabaran yang luar biasa. Bagi
Syakilla, penantian merupakan bagian dari kesabaran, bukti dari
ketulusan dan kesetiaan. Semua itu demi cintanya kepada sang kekasih,
Mas Riyan, suami tercinta. Ia ingin membuktikan ketulusan hatinya
terhadap suami tercinta bahwa apapun yang terjadi ia tetap akan menanti
rabithah cintanya itu.
Kegalauan hatinya bertambah ketika di tengah
penantian panjang itu seorang dokter lainnya dikirim pula ke tempat ia
berada menggantikan sang suami yang belum juga ada kabarnya. Ia tak
berdiam diri dan yakin bahwa suaminya masih hidup. Segala ikhtiar
ditempuhnya untuk memastikan sang suami masih hidup. Lama ia menanti
hingga akhirnya dokter pengganti itu datang yang tak lain adalah
Andrean, mantan kekasihnya pada masa silam.
Bagaimana ujung dari penantian Syakilla?
Bagaimana nasib Riyan?
Hmm, baca aja ya!!!
***
Jakarta, 16 September 2010
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan September 2010 di blog sebelumnya

Judul Resensi : Agar Anak Makin Cinta
Judul Asli : Kaifa Takuna Abawaini Mahbubain?
Penulis : DR. Muhammad Fahd Ats Tsuwaini
Penerbit : Dar Iqra’ Iin Nasyr wat Tauzi’
Cetakan IV : 2005
Judul Terjemahan : Alfabet Cinta; 28 Cara agar Orangtua Dicintai Anaknya
Penerjemah : Arif Munandar
Penerbit : Mumtaza, Solo
Cetakan I : Juli 2009
Harga : Rp 16.000,00
Melalui
buku ini kita akan berusaha mengenali sarana-sarana praktis yang setiap
hari bisa kita gunakan untuk membahasakan cinta dan kasih sayang kepada
putra-putri kita. Sebagai orang tua, pastinya sangat menyayangi mereka.
Tetapi, terkadang kita lalai memberitahu hal itu kepada mereka, atau
karena kita tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, serta malu
untuk mencium atau membelai mereka.
Pada buku
yang tidak terlalu tebal ini, disajikan secara runtut, sesuai urutan
huruf Hijaiyah mengenai 28 cara aplikatif agar orang tua semakin
dicintai anak-anaknya yang dinamakan Alfabet Cinta oleh penulisnya.
Lewat Alfabet Cinta ini diharapkan dapat menjadi sarana praktis bagi
orang tua dalam membahasikan cinta dan kasih sayang mereka pada
putra-putrinya. Ke-28 Alfabet Cinta itu akan diuraikan secara ringkas
sebagai berikut.
1.Addib = Didiklah!
Didiklah putra-putri Anda dan
asuhlah mereka dengan baik seperti sabda Rasulullah SAW : “Rabbku telah
mendidikku dan membaguskan pendidikanku”. Hal ini bisa terlaksana
dengan mengajari anak beretika dan berinteraksi dengan baik kepada :
Allah, Al-Qur’anul Karim, Rasulullah SAW, para Nabi dan Rasul lainnya,
para sahabat, orang-orang shalih dan para ulama, seluruh kaum muslimin,
binatang, benda-benda mati, dsb.
2.Bayyin = Jelaskan!
Ungkapkan
pendapat tentang anak-anak Anda. Sebab, mereka senang mendengar
penilaian Anda terhadap diri mereka dan seberapa besar keridhaan Anda
pada mereka, meliputi : pekerjaan, prestasi belajar, penampilan dan
tugas-tugas rumah mereka.
3.Ta’assaf = Tunjukkan Penyesalan!
Tunjukkan
penyesalan dan segeralah minta maaf manakala Anda terlanjur melakukan
sesuatu yang dapat menyakiti hati putra dan putri Anda.
4.Tsaqqif = Luaskan Wawasan!
Luaskan
wawasan anak-anak Anda dan kenyangkan mereka dengan pengetahuan.
Wawasan bisa membantu anak membangun kepribadian yang berimbang. Wawasan
adalah jalan kesuksesan, peluang besar untuk menguasai berbagai ilmu
serta merupakan bidang spesialisasi dan kreasi.
5.Jâhid = Berjihadlah!
Bersama
anak-anak Anda, berjihadlah di jalan Allah setiap hari melalui
mujahadah nafs, bersabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar menerima
cobaan dalam urusan sehari-hari.
6.Habbib = Cintakanlah!
Cintakanlah
anak-anak Anda pada perbuatan baik dan bakti. Ini tak mungkin terwujud
melalui ucapan dan janji-janji semata, tapi juga memerlukan sikap-sikap
konkret sedari dini agar mereka tumbuh di atas kebaikan-kebaikan itu.
7.Khâlil = Sayangilah!
Sayangilah
anak-anak Anda. Jadilah teman mereka dalam belajar, kawan dalam
perjalanan, sahabat dalam memahami, serta mengetahui rahasia-rahasia
mereka, menjadi orang yang tulus menasihati dan mengarahkan mereka.
8.Dâfi‘ = Pertahankan dan Bela!
Pertahankan
anak-anak Anda. Jangan sampai mereka menjadi mangsa empuk iblis beserta
antek-anteknya dari bangsa jin dan manusia. Di sini, peran Anda dalam
membelanya termanifestasi dalam sikap simpati Anda terhadap dirinya jika
ada seseorang yang menyakitinya, ia terancam bahaya atau menghadapi
satu masalah yang membuatnya menjadi ciut.
9.Dzâkir = Ingatkan!
Orang
tua mengajarkan pada anak-anak mereka untuk senantiasa beribadah dan
juga berdzikir tiap saat, wajib mengingatkan anak akan urusan pribadi
mereka, pekerjaan rumah, dll
10.Râghib = Rindukan!
Rindukan putra-putri Anda pada surga, bahkan pada surga Firdaus yang tertinggi, dan peringatkan mereka dari neraka.
11.Zayyin: Perindahlah!
Perindahlah
ucapan, kata-kata, kalimat-kalimat dan semua yang keluar dari mulut
Anda kepada anak-anak Anda. Ucapan yang baik adalah shadaqah dan
berpengaruh besar pada kejiwaan anak serta kecintaanya pada orang tua.
12.Sallim = Ucapkanlah Salam!
Ucapkanlah
salam kepada anak-anak setiap kali bertemu mereka. Ucapkanlah
“Assalamu’alaikum”, maka bagi Anda sepuluh kebaikan. Ucapkanlah
“Assalamu’alaikum Warahmatullah”, maka bagi Anda dua puluh kebaikan.
Ucapkanlah “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, maka bagi Anda
tiga puluh kebaikan.
13.Syârik = Sertailah!
Sertailah
putra-putri Anda dalam tugas mereka. Beri mereka kesempatan untuk
melakukan tugas mereka sesuai kemampuan yang mereka miliki.
14.Shil = Jalinlah!
Jalinlah silaturahim. Ajari anak-anak menjalin silaturahmi dan mengunjungi sanak saudara.
15.Dhârib = Berbisnislah!
Berbisnislah
dengan halal dan ajari anak Anda untuk berbisnis. Agama kita yang lurus
menghasung kita bersikap mandiri dalam mencari rezeki, tidak
meminta-minta, tidak pasrah atau bergantung pada orang lain dalam
kebutuhan hidup.
16.Thabbib = Obatilah!
Obati
putra-putri Anda dan jangan menerlantarkan mereka dengan alasan malas
atau sibuk, atau malah berburuk sangka pada mereka. Berinisiatiflah
menempuh berbagai cara untuk memproteksi mereka dari sakit,
komplikasi-komplikasinya dan bermacam dampak buruknya.
17.Zhallil = Naungilah!
Naungi putra-putri Anda dengan cinta, kasih sayang, dan perhatian!
18.‘Allim = Ajarilah!
Ajarilah ilmu syar’i dan ilmu umum pada anak-anak Anda demi meraih kebaikan dunia dan akhirat.
19.Ghayyir = Ubahlah!
Ubahlah
gaya kepribadian Anda yang bisa membuat malu anak-anak, baik dengan
meninggalkan hal-hal yang negatif atau memunculkan hal-hal yang positif.
20.Farriq = Bedakan!
Bedakan
antara generasi Anda dan generasi mereka. Bedakan antara persepsi
mereka dan persepsi Anda. Mensinergiskan diri kita dan diri mereka
merupakan langkah solutif bagi perbedaan besar yang terjadi antara kita
dan mereka.
21.Qabbil = Ciumlah!
Ciumlah putra-putri Anda setiap hari. Demikian juga, izinkan mereka mencium Anda sebagai tanda cinta mereka pada Anda.
22.Karrim = Muliakanlah!
Muliakanlah putra-putri Anda. Jangan menghina, mengejek, dan meremehkan mereka.
23.Lâmis = Belailah!
Sentuh
raganya dan jangan menghalangi mereka merasakan gelora belaian dalam
menanamkan dan menumbuhkan cinta dalam hati dan cintanya.
24.Mâzih = Candailah!
Candai
dan bermainlah bersama anak-anak. Bermain merupakan kebutuhan naluriah
manusia, terlebih anak-anak kecil itu tumbuh dan merasakan cinta lewat
permainan.
25.Nâqisy: Koreksilah!
Koreksilah, ajak berdiskusi dan berdialog!
26.Haddi’ = Tenangkanlah!
Tenangkan dirimu, jangan tegang, dan berbesar hatilah dalam menghadapi kenakalan anak-anak Anda.
27.Waddi‘ = Ucapkan Selamat Jalan!
Biasakan melepas kepergian dan menyambut kedatangan anak
28.Yassir! = Permudahlah!
Termasuk
hak anak yang harus diberikan orang tua adalah anak merasa orang tua
suka memberi kemudahan dalam berinteraksi dengan memberi kesempatan
untuk mencoba dan terus mencoba.
Pada bagian akhir dari buku ini juga
dilengkapi tabel evaluasi kadar cinta Anda pada anak yang diisi oleh
anak-anak Anda. Dari hasil perhitungan pada tabel ini, Anda akan
mengetahui seberapa besar kecintaan Anda pada anak-anak Anda. Hasil
tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi Anda.
"ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA AYUN, WAJALNA LILMUTTAQINA IMAMAA."
(Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta
istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam
bagi orang-orang yang bertakwa) (QS. Al Furqon:74)
"ROBBI
AWZINI AN ASYKURO NIMATAKALLATI AN AMTA ALAYYA. WA ALA WAALIDAYYA WA AN
AMALA SHOLIHAN TARDHOH, WA ASHLIH LII FI DZURRIYATIY" (Wahai
Robbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah
Engkau karuniakan padaku juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku
untuk melakukan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan perbaikilah
keturunanku) (QS. Al Ahqof:15)
Jakarta, 170610_02:30
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan Juni 2010 di blog sebelumnya

Judul Resensi : The Lost Syambel : Bukan Sekedar Buku Resep!
Judul Buku : The Lost Syambel
Penulis : Dan Bloon
Penerbit : B-First (PT. Bentang Pustaka)
Terbit : April 2010
Tebal : 156 halaman
Harga : Rp 32.500,00
The Lost Syambel adalah bacaan penuh teka-teki dan misteri yang tak
terkait sama sekali satu dengan lainnya. Novel hebat yang bisa membuat
pembacanya masuk ke dunia yang penuh ketegangan sekaligus kelelahan.
Terdapat pesan-pesan bijaksana bagi yang menyadarinya, dan terdapat
cerita yang menggugah selera bagi yang tidak menyadarinya.
Kisah memecahkan misteri yang berawal dari simbol-simbol yang terdapat
pada sebuah tripleks yang ditemukan secara tidak sengaja, berbekal ilmu
seadanya di dalam kedua tokoh utama (Obet dan Maemunah), mereka berusaha
memecahkan arti kode tersebut. Hasilnya sungguh di luar dugaan, namun
proses menuju hasil tersebut, lebih di luar dugaan.
Begitulah pengantar pembuka dari penerbit. Saya idem dengan penerbit juga deh!
Obet dan Mae (nama panggilan Maemunah binti Maomuntah) terlibat seru
dalam memecahkan sebuah misteri dari simbol-simbol unik pada sebuah
tripleks yang tak sengaja ditemukan di rumah kontrakan milik Obet.
Ternyata simbol-simbol itu awalnya ada hubungannya dengan teks
Proklamasi. Eh, pada akhirnya malah berhubungan dengan sebuah resep
sambel pete. Nah lo, kok bisa???
Novel ini bukan saja berisi
kisah-kisah konyol dari setiap tokohnya, tapi juga bisa disebut buku
sejarah berkolaborasi dengan buku resep. Karena novel ini membawa
pembaca melintasi sejarah nasionalisme bangsa Indonesia. Bahkan menambah
wawasan tentang sejarah beberapa museum dan patung-patung yang ada di
Indonesia, khususnya di kota Jakarta. Selain itu, novel ini menyajikan
resep yang bisa pembaca praktikkan jika ingin membuat sambel yang berasa
dahsyat. Hehe!
Okelah, selamat membaca sambil makan sambel!!!
Jakarta, 130610_00:02 (lewat tengah malam…)
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan Juni 2010 di blog sebelumnya

Judul Resensi : 2012-an Ancur!
Judul Buku : 2012-an; Seribu Enam, Kalau Nggak Percaya Tanya Toko Sebelah!
Penulis : Iwok Abqary
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Terbit : Mei 2010
Tebal : 224 halaman
Harga : Rp 34.000,00
Sudah nonton film 2012 kan? Memang, film 2012 menjadi film terheboh
beberapa waktu silam. Film tersebut juga berhasil menjadi film
‘termurah’. Pasalnya, tanpa merogoh kocek Rp 15.000,- untuk menonton
film itu di XXI, banyak orang yang dengan mudahnya bisa menonton gratis
atau hanya mengeluarkan Rp 5.000,- untuk membeli CD bajakannya. Dasar
orang Indonesia, membajak kepingan CD memang lebih prospek daripada
membajak sawah, begitu mungkin jalan pikirannya.
Saya tidak akan membahas film 2012. Sudah jadul. Kali ini saya akan
mencoba berbagi review tentang buku baru saya. Baru beli dan baru baca
maksudnya! Buku ini berisi kumpulan cerpen ancur yang ditulis oleh
penulis-penulis yang tak kalah ancur. Eits, maaf! Ancur tulisannya
(gokil banget, -red). Cerpen-cerpen di dalam buku ini memang memberikan
efek negatif yakni membuat pembaca senyum-senyum atau ketawa-ketiwi
sendiri. Nah lo!
Buku ini berisi 12 judul cerpen yang mengisahkan
kekonyolan-kekonyolan para tokoh dalam menghadapi isu kiamat di tahun
2012. Ke-12 judul itu antara lain : Jomblo Parno (Iwok Abqary),
21-12-2012 is Dead! (Dhinny El-Fazila), Ki Amat Sudah Dekat (Taufan E.
Prast), Ada Apa dengan Tangky (Lia Chufyana), Kiamat itu Pedas! (Tria
Ayu K), Dua Ribuan Ujang (Azzura Dayana), 2012 (Zulfian Prasetyo), Gokil
Show (Ratno Fadillah), Kiamat? Bolos Sekolah, Ah! (Rex), Kiamat Pulsa
(Taufan E. Prast), 20:12 (Lian Kagura), dan Kiamat Datang Lebih Cepat
(Abdul Gafur).
Meskipun dibalut dengan kisah-kisah kocak dari setiap
pemain (tokoh) dalam masing-masing cerpen, hadirnya buku ini juga
membawa pesan yang sangat mulia, yakni mengingatkan kita bahwa kiamat
memang sudah dekat. Kiamat besar yang ditandai dengan luluh lantaknya
alam raya ini pasti terjadi, entah kapan, dan kita semua dituntut untuk
mempersiapkannya. Membekali diri kita dengan iman dan amal sholeh yang
seharusnya semakin kita tambah di setiap detiknya.
Buku ini bagus
untuk menambah tumpukan koleksi buku di perpus Anda (nambah 1.5
centimeter tingginya!), bagus juga untuk bahan dongeng sebelum tidur,
atau untuk bantal juga bisa (weh!). Okelah, daripada lama-lama membaca
tulisan saya ini, saya sarankan untuk segera membaca buku ini saja! Sip,
selamat membaca dan tertawa karenanya! Mumpung belum dilarang tertawa!
Tapi hati-hati, karena banyak tertawa dapat mematikan hati. So,
Waspadalah! Waspadalah!!!
Jakarta, 130610_23:15
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan Juni 2010 di blog sebelumnya

RESENSI BUKU
Judul Resensi : Istri Luar Biasa Hasan Al Banna
Judul Buku : Persembahan Cinta Istri Hasan Al Banna
Penulis : Muhammad Lili Nur Aulia
Penerbit : Tarbawi Press
Terbit : Maret 2010
Tebal : 82 halaman
Harga : Rp 25.000,00
Namanya
Lathifah Husain Ash Shuli, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya. Beliau
lahir dan dewasa dalam sebuah rumah dan keluarga yang taat menjalankan
nilai-nilai Islam. Ayahnya, salah satu tokoh agama kota Ismailiyah, sisi
timur Mesir dan termasuk orang yang simpatik dengan pribadi dan dakwah
yang disampaikan Hasan Al Banna. Orang tuanya Hasi Hasan Ash Shuli
sendiri yang banyak bercerita kepada putrinya, Lathifah, tentang dakwah
Al Ikhwan Al Muslimun, tentang pendirinya yang kerap mengunjungi
kedai-kedai minum, ruang-ruang diskusi, untuk menghimpun orang banyak
dan menyampaikan dakwah. Di rumahnya itulah, organisasi Al Ikhwan Al
Muslimun bisa tumbuh dengan baik dan pengaruhnya meluas di masyarakat
sekitarnya.
Menurut Ustadz Mahmud Al Halim,
“Di antara keluarga yang menyambut seruan dakwah Hasan Al Banna dari
penduduk Ismailiyah, adalah keluarga mulia yang bernama Ash Shuli.
Mereka adalah para pedagang kelas menengah di Ismailiyah. Keluarga ini
termasuk keluarga yang berkarakter agamais, dan berhasil mendidik
anak-anak mereka sesuai norma agama...” Lebih lanjut Mahmud Abdul Halim
menegaskan, “Hasan Al Banna dalam kesenangan dan kesempitan. Dialah
penopang paling baik dalam dakwahnya hingga menemui syahid secara
terzalimi.”
Dalam salah satu kunjungannya, ibunda Hasan Al Banna
(Hajah Ummu Sa’d Ibrahim Shaqr) mendengar lantunan bacaan Al Qur’an
yang indah dan bagus dari dalam rumah keluarga Ash Shuli. Ibunda Al
Banna tertarik untuk mengetahui siapa pemilik suara itu, dan ternyata ia
adalah Lathifah. Ibunda Al Banna akhirnya menemui Lathifah. Dalam
hatinya, beliau berkeinginan untuk menikahkannya dengan putra tercinta.
Akhirnya dilakukan khitbah, akad nikah, dan resepsi dalam waktu dua
bulan. Akad nikahnya dilakukan pada saat peringatan Nuzulul Qur’an
Mulailah
bahtera rumah tangga Hasan Al Banna dan Lathifah dikayuh. Pada bulan
Oktober 1932, usai pernikahan, mereka mengontrak sebuah rumah kecil yang
tidak terlalu jauh dari rumah keluarganya. Rumah kontrakan itu, meski
kecil, tapi bak istana. Rumah kontrakan itu sering dipakai sebagai
markas Ikhwanul Muslimin. Hasan Al Banna begitu dicintai keluarganya.
Bahkan beliau tak jarang pergi ke pasar untuk membeli bumbu dapur.
Lathifah
meyakini bahwa pernikahannya harus menjadi sarana mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Bahwa ia harus melakukan ketaatan yang baik kepada
suaminya, yang bisa mengantarkannya ke surga. Lathifah menyadari,
sebagai pendamping seorang aktivis dakwah tentunya bukanlah hal yang
mudah. Ia juga menyadari bahwa pengabdiannya kepada sang suami di jalan
dakwah ini, merupakan bagian dari jihad yang harus dilakukannya.
Lathifah yakin dengan sabda Rasulullah SAW, ‘Seandainya aku boleh
memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seseorang lainnya, niscaya
aku perintahkan istri untuk sujud pada suaminya.”
Lathifah belajar
banyak tentang makna berkorban dari sang suami. Lathifah sangat percaya
pada suaminya yang berprofesi sebagai ustadz, tokoh, guru, dan aktivis
organisasi dakwah yang jelas berhubungan dengan banyak orang, termasuk
akhwat lainnya.
Saat Hasan Al Banna gugur, anak-anak beliau belum
beranjak dewasa. Gugurnya sang suami saat ia masih mengandung anak
terakhirnya dalam kondisi sakit jantung dan kian lemah. Anak terakhirnya
diberi nama : Istisyhad (berharap mati syahid), karena terlahir setelah
wafatnya sang ayah. Lathifah berkata “Hasan Al Banna adalah hadiah
terindah dalam hidupku”. Hasan Al Banna dan Lathifah memiliki tujuh
orang anak yang luar biasa, yakni : Saiful Islam Hasan Al Banna yang
menjadi advokat terkenal, Wafa istri seorang da’i Said Ramadhan, Tsana
seorang dosen fakultas perempuan di Mesir, Halah dosen fakultas
kedokteran. Muhammad Hishamuddin dan Shafa meninggal di waktu kecil.
Keduanya dimakamkan di tangan ayahnya sendiri. Terakhir, Istisyad yang
lahir setelah Hasan Al Banna wafat.
Lathifah mengalami kesedihan yang
luar biasa saat meninggalnya Hasan Al Banna karena tragedi penembakan
pada hari Sabtu, 12 Februari 1949. Akan tetapi, ia tetap bangkit dan
meneruskan perjuangan dakwah meski sudah ditinggal suami.
Lathifah
Ash Shuli tutup usia setelah 36 tahun pernikahannya dengan Hasan Al
Banna. Namun, dari rentang 36 tahun ini, hanya 17 tahun yang ia lalui
bersama sang suami. Beliau menderita sakit. Ia telah berhasil melewati
kehidupannya yang penuh jihad dan kesabaran. Ia adalah contoh bagi para
istri dalam interaksi dakwahnya sebagai pendamping seorang pemimpin
dakwah dan sebagai ibu dari anak-anaknya.
Hasan Al Banna memanglah
seorang suami yang memiliki perhatian dan sikap istimewa terhadap
keluarganya, namun beban dakwah yang dipikulnya, jelas sangat
menghajatkan seorang istri yang bukan hanya mampu meneduhkan jiwanya,
menenangkan perasaannya, membahagiakan hatinya tatkala ia di dalam
rumah, tapi juga yakin dan percaya kepada sang istri soal perawatan dan
pendidikan anak-anaknya di rumah.
Buku ini sangat bagus untuk
referensi para aktivis dakwah. Kisah istri Hasan Al Banna dapat
menjadi teladan bagi kita, khususnya para muslimah dalam menjalani
kesehariannya sebagai bagian dari gerakan dakwah yang memegang peran
vital. Buku ini juga menguraikan peran seorang istri sebagai manager
rumah tangga. Lathifah mengajarkan tentang pengaturan keuangan keluarga
yang begitu luar biasa dan patut dijadikan contoh. Pendapatan bulanannya
dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama untuk keperluan rumah dan
keluarga, bagian kedua untuk dakwah, dan bagian ketiga untuk saudara
serta keluarga besarnya. Lathifah juga menjadi inspirasi bagi kita dalam
berjuang untuk tetap tegar di jalan-Nya.
Selamat membaca dan terinspirasi karenanya!
Jakarta,010610_05:45
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan Juni 2010 di blog sebelumnya

Cinta di Rumah Hasan Al-Banna
Judul Resensi : Hasan Al Banna, Bukan Sembarang Ayah!
Judul Buku : Cinta di Rumah Hasan Al Banna
Penulis : Muhammad Lili Nur Aulia
Penerbit : Pustaka Da’watuna Terbit : Juni 2009 (cetakan keempat)
Tebal : 92 halaman
Harga : Rp 25.000,00
Telah
banyak buku yang mengupas Imam Hasan Al Banna dan keberhasilannya
membangun pondasi gerakan dakwah Al Ikhwan Al Muslimin yang mengilhami
geliat kebangkitan Islam di seluruh dunia. Namun, sedikit sekali
referensi yang membicarakan dakwah Al Banna sebagai ayah dalam
keluarganya. Nah, buku ini mencoba menghadirkan berbagai pengalaman dan
kenangan anak-anak Al Banna saat ayah mereka hidup di tengah aktivitas
dakwahnya yang padat. Buku ini mencoba 'mengintip' dakwah Al Banna
kepada keluarganya.
Buku kecil ini bisa
disebut buku saku dilihat dari ukurannya yang kecil. Menurut saya buku ini adalah
buku saku yang sangat berbobot. Setidaknya untuk setiap pribadi yang masih
dalam rencana untuk membangun keluarga dakwah (seperti saya). Secara
garis besar, sebenarnya pesan global dari buku ini adalah untuk membuat
sebuah pilar yang kuat dari fase bina ul-ummat, yaitu takwiinu baytul
muslim, dengan sangat baik, mulai dari rencana pemilihan calon ibu/ayah
untuk anak-anaknya kelak hingga saat pembinaan keluarga itu sendiri.
Buku
ini dimulai dengan kisah like father like son, sebuah kisah yang
menggambarkan kesholehan putra seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Dilanjutkan dengan kisah dari proses pencarian istri Hasan Al-Banna.
Bermula dari ketertarikan Sang Ibunda pada kelembutan suara Al-Qur’an
seorang gadis pada saat beliau bersilaturahim di sebuah rumah, lalu
Ibunda Hasan Al-Banna bercerita dengan anaknya. Akhirnya, berlanjutlah
ke proses pernikahan.
Selanjutnya, buku ini membahas tentang
bagaimana seorang muassis gerakan Ikhwanul Muslimin, dalam tingkat
kesibukan yang amat sangat, tetap melaksanakan hak dan kewajiban
keluarganya. Dikisahkan pula tentang seorang suami yang sangat
menyayangi dan menghormati istrinya. Digambarkan bagaimana Hasan
Al-Banna dengan penuh kasih sayang mendidik anak-anaknya, memberikan
pemahaman tanpa kekerasan, membuat anak-anaknya cinta dengan Al-Qur’an
dan ilmu pengetahuan,dll
Kesan mendalam bagi saya dari buku ini
adalah bagaimana Hasan Al-Banna menanamkan nilai-nilai kesederhanaan,
keikhlasan dan pengorbanan dalam keluarganya, sehingga istrinya dengan
hati yang senang dan rela menyumbangkan banyak perabotan rumahnya untuk
markas dakwah Ikhwanul Muslimin, sehingga dengan ikhlas dan rela,
anak-anaknya menjadi orang-orang yang paling dahulu sadar dan
memperjuangkan kondisi umat Islam di Palestina dan Mesir, sehingga
dengan lapang, sang istri menerima jawaban sang suami saat ia memintanya
membeli sebuah rumah kecil ”Wahai Ummu Wafa, sesungguhnya istana kita
sedang menunggu kita di surga-Nya….”. Alangkah indahnya, sehingga dengan
ikhlas dan ridha, keluarganya melepas kepergian suami dan ayah mereka,
dalam kesyahidan di jalan Allah.
Saya juga terinspirasi dengan
kebiasaan keluarga yang dicontohkan Hasan Al-Banna. Semisal, makan pagi
bersama tiap pagi, membaca Al-Qur’an bersama-sama setiap ba’da magrib,
dan pergi ke toko buku tiap bulan untuk membeli buku-buku yang
bermanfaat. Buku ini mengisahkan bagaimana Hasan Al Banna dalam
menanamkan keimanan dan kecintaan terhadap Islam, bagaimana sikapnya
terhadap kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan anaknya, bagaimana bentuk
perhatiannya terhadap pendidikan, kebiasaan beliau mendokumentasikan
perkembangan dan riwayat sakit yang pernah dialami masing-masing anak,
lengkap dengan catatan kapan saja si anak sakit, sakit apa, obat apa
yang pernah diberi, berikut rekomendasi dan resep-resep dokter.
Pendeknya sampai hal terkecil pun didokumentasikan secara detail dan
rapi. Hal ini saya kira bukan pekerjaan mudah yang tidak menyita waktu,
apalagi di tengah aktivitas dakwahnya yang demikian padat. Dari sini
kita diyakinkan bahwa tidak ada dikotomi antara keluarga dan dakwah. Pun
tidak akan ada pertanyaan: "Mana yang lebih penting, dakwah untuk ummat
atau membina keluarga?"
Memang perilaku Hasan Al Banna dalam
mendidik anak-anaknya belum tentu mencerminkan sesuatu yang ideal. Semua
yang ideal tetap milik Rasulullah SAW sebagaimana ucapan beliau, "Wa
anaa khairukum li ahlii..." (Aku adalah orang yang paling baik di antara
kalian kepada keluarga). Tapi, apa yang dilakukan Hasan Al Banna
seperti yang tertera di buku ini, merupakan contoh lahir yang bisa
menjadi inspirasi kebaikan bagi kita semua.
Bagi sahabat, para
abi/calon abi sekalian, atau para ikhwah calon arsitek pembangun rumah
tangga dakwah, buku ini cocok buat dibaca, karena di dalamnya tertuang
banyak contoh nyata dari seorang para pejuang dakwah dalam memposisikan
diri secara lebih tepat saat mengemban amanah, baik dalam keluarga
maupun dakwah.
Selamat membaca, merenungkan, dan mempraktikkannya!
Jakarta, 030610_03:40
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan Juni 2010 di blog sebelumnya

RESENSI BUKU
Judul Buku : Jurnalis Narsis
Penulis : Doni Indra
Penerbit: PT. Lingkar Pena Kreativa
Terbit : April 2010
Tebal : 192 halaman
Harga : Rp 29.000,00
“Jurnalis
adalah profesi mulia, narsis juga sebuah upaya memuliakan diri.
Jurnalis narsis berbagi kemuliaan lainnya, pengetahuan baru, pengalaman
seru, dan suasana jenaka yang tidak terduakan. Mulailah orang yang
membacanya...”. Begitulah komentar Taufan E. Prast (Ketua FLP Jakarta
dan mantan jurnalis (tidak) narsis) yang bertengger di cover belakang
buku fiksi komedi berjudul “Jurnalis Narsis” ini.
Jurnalis
Narsis mengisahkan pengalaman seorang wartawan cupu bernama Paijo yang
aslinya bernama sangat panjang, yakni Paijo Perdana Primadi Kuswanto
Purwomaruto. Akan tetapi, dia memperkenalkan dirinya pada orang-orang
dengan sebutan yang cukup gaul yakni: Joe! Sayang, teman-temannya berat
hati memanggil Paijo dengan sebutan Joe, karena menurut mereka, nama itu
terlalu ganteng untuk dirinya!
Paijo sebenarnya adalah keturunan
orang Jawa, tapi ia lahir dan besar di Sumatra. Setelah menamatkan
kuliahnya di jurusan Agrobisnis yang berada di salah satu universitas
ternama di Sumatra, Paijo merantau dan mengadu nasib di Jakarta. Paijo
sempat menambah daftar pengangguran intelektual di negeri ini hingga
pada akhirnya ia berhasil menjadi salah satu wartawan di Majalah Bisnis
Moncer, Jakarta.
Majalah Bisnis Moncer adalah majalah di bidang
ekonomi dan bisnis yang terbit setiap dua minggu sekali. Paijo mendapat
amanah sebagai wartawan pasar modal. Awalnya ia protes kepada Mas
Kendor, redakturnya, karena menurut Paijo posisi sebagai wartawan pasar
modal tidak sesuai dengan basic ilmu yang dimilikinya, yakni agrobisnis.
Tapi akhirnya Paijo menerimanya, daripada harus luntang-lantung menjadi
pengangguran terdidik. Akhirnya, Paijo belajar keras tentang pasar
modal.
Sebagai wartawan baru di Majalah Bisnis Moncer, hasil kerja
Paijo bisa dibilang sangat memuaskan. Ia pandai memburu narasumber.
Paijo tetap berhasil mewawancarai narasumbernya, meski sang narasumber
tersebut anti dengan wartawan. Tulisannya di Majalah Bisnis Moncer juga
sering mendatangkan pujian. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari
mulutnya sering membuat narasumbernya terkagum-kagum. Akan tetapi,
sempat ia mendapat layangan protes dari seorang narasumber yang
profilnya ia beberkan di Majalah Bisnis Moncer. Paijo hampir putus asa
waktu itu. Ia sempat frustasi. Meski pada akhirnya kegelisahannya itu
berakhir dengan kejutan dan tawa bahagia.
Jurnalis Narsis bukan hanya
sekedar kisah fiksi, tapi di dalamnya sarat akan muatan ilmu seputar
dunia jurnalistik dan pasar modal. Pembaca tidak akan jemu dengan
kisahnya, karena disajikan layaknya cerpen yang sekali baca habis. Di
setiap kisahnya, terdapat ulah-ulah narsis Paijo yang cukup menghibur.
Selamat membaca dan tertawa renyah karenanya!
Jakarta, 010610_00:28
Aisya Avicenna
Tulisan ini
diposting pada bulan Mei 2010 di blog sebelumnya